ALAM TERBENTANG LUAS JADIKAN GURU
Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum. Wr. Wb.
Terbayang
suatu ketika disebuah desa yang berada di Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di
Desa Bangorejo. Terdapat dua orang saudara laki-laki dan perempuan. Dia
merupakan anak dari kedua orang tuanya yang saat ini telah memiliki keluarga
masing-masing. Hidup dengan kakek dan nenek semenjak masih kecil. Terlebih anak
laki-laki tersebut tidak pernah menjumpai Ayah kandungnya sampai ia
menginjakkan kakinya di Madrasah Aliyah (MA).
Mereka
hidup diajarkan untuk menghormati seseorang yang lebih tua, tawaduk dengan
guru, bersikap sopan, pun nenek mereka menekankan akan pentingnya menuntut ilmu
baik ilmu agama maupun ilmu layaknya pendidikan di sekolah formal. Semasa
menjalani pendidikan di Sekolah Dasar (SD) mereka setiap hari membantu nenek
berjualan sayuran di pasar shubuh. Sang Adik dan Kakak dibangunkan sekitar
pukul 03:00 WIB untuk membawa sayuran ke pasar, guna kehidupan sehari-hari.
Sang kakak biasanya pulang terlebih dahulu guna menyiapakan sarapan pagi. Sang
kakak pun harus rela mengayuh sepeda lebih jauh untuk mengantarkan Adiknya yang
pada waktu itu masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK), kurang lebih dapat
ditempuh sekitar 30 menit jika menggunakan sepeda ontel.
Teringat
bagaimana ketika mereka berdua di sawah. Memang pekerjaan kakek dan nenek
adalah petani. Petani sayur, lombok, tomat dan lain-lain. Mereka setiap habis
pulang sekolah menghabiskan waktu untuk ikut ke sawah membantu kakek dan nenek,
sesekali tidak ke sawah kerena bermain dengan teman-teman kampung. Tetapi apa
daya saat itu teman-teman menganggap berbeda. Kedua Adik dan Kakak ini tidak
memiliki Ayah dan menganggap itu merupakan suatu yang berbeda.
Cerita
singkat di atas merupakan sebuah realita yang harus dihadapi, bukan untuk
dihindari. Perlu teman-teman ketahui sebenarnya sang Adik adalah saya sendiri
(Moh. Bagus) dan sang Kakak adalah kakak saya (Nur Wulan Putri Nasihin) yang
Insya Allah bulan april 2017 akan menikah. Mungkin teman-teman khususnya di
Fakultas Syariah dan Hukum cukup mengenal saya. Tapi jangan dikenal saya anak
yang berprestasi hanya karena mendapatkan juara ketika lomba.
Sebenarnya
saya hanyalah anak dari Ibu dan Ayah petani. Saya tidak pernah berfikir bisa
kuliah saat ini. Padahal untuk menginjakkan kaki di Madrasah Aliyah (MA) saja
ketika itu hampir tertutup, lantaran nenek saya sudah tidak sanggup membiayai
sekolah. Pun saya menangis ketika itu, banyak cercaan yang saya dengar dari
teman-teman. Yang sering mereka katakan adalah “Saya anak tidak punya Ayah”.
Pun kuliah di sini saya juga tidak pernah terbayangkan dapat duduk dikelas yang
nyaman. Terlebih lagi bisa di delegasikan untuk mengikuti perlombaan Debat
Konstitusi di Universitas Mataram, mengikuti kegiatan bakti masyarakat dalam
acara Perkemahan Wirakarya Perguruan Tinggi Se-Indonesia (PW-PTKIN) di Sulawesi
Tenggara, Lomba Debat Hukum Universitas Narotama, Lomba Debat Konstitusi dan
Pembangunan Negara di Universitas Padjajaran Bandung. Itu semua saya ikuti tanpa
mengeluarkan biaya pribadi. Naik pesawat terbang (tidak pernah sekali
terfikirkan), naik kereta, mobil kampus dengan gratis.
Teman-teman
ku khususnya Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum. Saya sering mendengar dari
kalian bahwasanya “Jangan mahasiswa kupu-kupu”. Namun apa makna dalam kalimat
tersebut? Apakah kita harus menjadi anak yang akademis? Ataukah kita wajib
menjadi aktivis?
Organisasi
sangatlah penting, dalam organisasi kita dapat mengembangkan potensi-potensi
non akademis kita. Namun faktanya organisasi hanyalah wadah pengembangan agar
kita menjadi lebih dewasa atau cara pendewasaan diri terdapat di sana. Akan
tetapi organisasi bukanlah sebuah prestasi. Mahasiswa yang dikatakan prestasi
adalah mereka yang selama masa perkuliahanya dapat menorehkan prestasi, baik
akademis maupun non akademis. Kita sering menuntut hak kita kepada birokrat
kampus namun perlu dicermati apakah kita sudah melaksanakan kewajiban kita ?
bukanya saya benci terhadap organisasi, saya pun anak yang aktif dalam
berorganisasi misalnya: Pramuka, Pers, dan Penyuluh Anti Narkoba. Saudaraku
perlu kita pertanyakan kembali untuk apa kita saat ini berada di sini ? saya
yakin kita bersama pamit kepada orang tua untuk kuliah. Mengapa kita
membohonginya? Kita sudah diberi kepercayaan oleh orang tua, seberapa banyak
orang tua telah menggelontorkan uangnya kepada kita sampai saat ini? Mereka
rela kerja apapun demi kita yang jauh denganya. Tak peduli harus berangkat pagi
dan pulang pagi banting tulang untuk kehidupan kita di sini. Mohon maaf teman-teman
ku, bukanya saya mengadili kalian semua. Namun tak luput dari pengamatan saya
sampai saat ini banyak diantara kita yang menyia-nyiakan waktunya. Terkadang
saya sempat menangis melihat kalian teman-temanku. Saya teringat bagaimana
orang tua mencari uang dirumah. Hanya untuk kita.
Teman-teman
dan saudaraku saya juga sedikit ingatkan, jangan kita terpaku dengan jurusan
kita. Misalnya saya Mahasiswa Prodi Hukum Pidana Islam, jangan kita hanya
mempelajari masalah hokum pidana saja, kita juga harus bisa menguasai
hukum-hukum yang lain. Misalnya, Tata Negara, Perdata, Bisnis dll. Jangan kita
menjadikan diri kita terkotak-kotak dalam suatu disiplin ilmu, jangan kita
remehkan jurusan kita, jangan pula kita menganggap kita lebih rendah dari
jurusan hukum di Universitas yang lain.
Sebenarnya
pemikiran Fakultas kita, Universitas kita lebih rendah dari Universitas yang
lain itu karena kita. Kita hanya mengukung diri kita sendiri kepada realitas
yang ada. Mari kita tanamkan bahwasanya kita tidakleh berbeda dengan mahasiswa
yang berada di Universitas yang lainya. Tanamkan bahwa kita mampu bersaing
dengan mereka dan buktikan dengan prestasi baik perlombaan bidang akademis
maupun non akademis! Benar ketika kita belajar tidak faham, tetap pelajari.
Karena ketidakpahaman kita dilandasi kita baru mengetahuinya. Jikalau kita
tetap berusaha untuk belajar, dan berjuang keras Insya Allah akan dimudahkan
dalam memahami pelajaran yang kita tempuh.
Teman-teman
ku... tulisan ini adalah secuil kisah dalam kehidupan saya. Saya-pun tidak
pernah menyangka saya bisa hidup di Kota Surabaya, dapat kuliah di Kampus
Negeri. Perlu kita ingat, seberat apapun hidup yang kita jalani itu merupakan
rahmat dari Allah. Saya pernah mendengar dari Ustadz saya bahwa Allah tidak
akan pernah memberikan cobaan diluar batas manusia. Dan saya yakin bahwa cobaan
yang diberikan oleh Allah tersebut adalah rahmat, karena di dalamnya terdapat
hikmah yang sangat banyak.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.
