Minggu, 16 April 2017

ALAM TERBENTANG LUAS JADIKAN GURU



ALAM TERBENTANG LUAS JADIKAN GURU
Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum. Wr. Wb.
Terbayang suatu ketika disebuah desa yang berada di Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di Desa Bangorejo. Terdapat dua orang saudara laki-laki dan perempuan. Dia merupakan anak dari kedua orang tuanya yang saat ini telah memiliki keluarga masing-masing. Hidup dengan kakek dan nenek semenjak masih kecil. Terlebih anak laki-laki tersebut tidak pernah menjumpai Ayah kandungnya sampai ia menginjakkan kakinya di Madrasah Aliyah (MA).
Mereka hidup diajarkan untuk menghormati seseorang yang lebih tua, tawaduk dengan guru, bersikap sopan, pun nenek mereka menekankan akan pentingnya menuntut ilmu baik ilmu agama maupun ilmu layaknya pendidikan di sekolah formal. Semasa menjalani pendidikan di Sekolah Dasar (SD) mereka setiap hari membantu nenek berjualan sayuran di pasar shubuh. Sang Adik dan Kakak dibangunkan sekitar pukul 03:00 WIB untuk membawa sayuran ke pasar, guna kehidupan sehari-hari. Sang kakak biasanya pulang terlebih dahulu guna menyiapakan sarapan pagi. Sang kakak pun harus rela mengayuh sepeda lebih jauh untuk mengantarkan Adiknya yang pada waktu itu masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK), kurang lebih dapat ditempuh sekitar 30 menit jika menggunakan sepeda ontel.
Teringat bagaimana ketika mereka berdua di sawah. Memang pekerjaan kakek dan nenek adalah petani. Petani sayur, lombok, tomat dan lain-lain. Mereka setiap habis pulang sekolah menghabiskan waktu untuk ikut ke sawah membantu kakek dan nenek, sesekali tidak ke sawah kerena bermain dengan teman-teman kampung. Tetapi apa daya saat itu teman-teman menganggap berbeda. Kedua Adik dan Kakak ini tidak memiliki Ayah dan menganggap itu merupakan suatu yang berbeda.
Cerita singkat di atas merupakan sebuah realita yang harus dihadapi, bukan untuk dihindari. Perlu teman-teman ketahui sebenarnya sang Adik adalah saya sendiri (Moh. Bagus) dan sang Kakak adalah kakak saya (Nur Wulan Putri Nasihin) yang Insya Allah bulan april 2017 akan menikah. Mungkin teman-teman khususnya di Fakultas Syariah dan Hukum cukup mengenal saya. Tapi jangan dikenal saya anak yang berprestasi hanya karena mendapatkan juara ketika lomba.
Sebenarnya saya hanyalah anak dari Ibu dan Ayah petani. Saya tidak pernah berfikir bisa kuliah saat ini. Padahal untuk menginjakkan kaki di Madrasah Aliyah (MA) saja ketika itu hampir tertutup, lantaran nenek saya sudah tidak sanggup membiayai sekolah. Pun saya menangis ketika itu, banyak cercaan yang saya dengar dari teman-teman. Yang sering mereka katakan adalah “Saya anak tidak punya Ayah”. Pun kuliah di sini saya juga tidak pernah terbayangkan dapat duduk dikelas yang nyaman. Terlebih lagi bisa di delegasikan untuk mengikuti perlombaan Debat Konstitusi di Universitas Mataram, mengikuti kegiatan bakti masyarakat dalam acara Perkemahan Wirakarya Perguruan Tinggi Se-Indonesia (PW-PTKIN) di Sulawesi Tenggara, Lomba Debat Hukum Universitas Narotama, Lomba Debat Konstitusi dan Pembangunan Negara di Universitas Padjajaran Bandung. Itu semua saya ikuti tanpa mengeluarkan biaya pribadi. Naik pesawat terbang (tidak pernah sekali terfikirkan), naik kereta, mobil kampus dengan gratis.
Teman-teman ku khususnya Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum. Saya sering mendengar dari kalian bahwasanya “Jangan mahasiswa kupu-kupu”. Namun apa makna dalam kalimat tersebut? Apakah kita harus menjadi anak yang akademis? Ataukah kita wajib menjadi aktivis?
Organisasi sangatlah penting, dalam organisasi kita dapat mengembangkan potensi-potensi non akademis kita. Namun faktanya organisasi hanyalah wadah pengembangan agar kita menjadi lebih dewasa atau cara pendewasaan diri terdapat di sana. Akan tetapi organisasi bukanlah sebuah prestasi. Mahasiswa yang dikatakan prestasi adalah mereka yang selama masa perkuliahanya dapat menorehkan prestasi, baik akademis maupun non akademis. Kita sering menuntut hak kita kepada birokrat kampus namun perlu dicermati apakah kita sudah melaksanakan kewajiban kita ? bukanya saya benci terhadap organisasi, saya pun anak yang aktif dalam berorganisasi misalnya: Pramuka, Pers, dan Penyuluh Anti Narkoba. Saudaraku perlu kita pertanyakan kembali untuk apa kita saat ini berada di sini ? saya yakin kita bersama pamit kepada orang tua untuk kuliah. Mengapa kita membohonginya? Kita sudah diberi kepercayaan oleh orang tua, seberapa banyak orang tua telah menggelontorkan uangnya kepada kita sampai saat ini? Mereka rela kerja apapun demi kita yang jauh denganya. Tak peduli harus berangkat pagi dan pulang pagi banting tulang untuk kehidupan kita di sini. Mohon maaf teman-teman ku, bukanya saya mengadili kalian semua. Namun tak luput dari pengamatan saya sampai saat ini banyak diantara kita yang menyia-nyiakan waktunya. Terkadang saya sempat menangis melihat kalian teman-temanku. Saya teringat bagaimana orang tua mencari uang dirumah. Hanya untuk kita.
Teman-teman dan saudaraku saya juga sedikit ingatkan, jangan kita terpaku dengan jurusan kita. Misalnya saya Mahasiswa Prodi Hukum Pidana Islam, jangan kita hanya mempelajari masalah hokum pidana saja, kita juga harus bisa menguasai hukum-hukum yang lain. Misalnya, Tata Negara, Perdata, Bisnis dll. Jangan kita menjadikan diri kita terkotak-kotak dalam suatu disiplin ilmu, jangan kita remehkan jurusan kita, jangan pula kita menganggap kita lebih rendah dari jurusan hukum di Universitas yang lain.
Sebenarnya pemikiran Fakultas kita, Universitas kita lebih rendah dari Universitas yang lain itu karena kita. Kita hanya mengukung diri kita sendiri kepada realitas yang ada. Mari kita tanamkan bahwasanya kita tidakleh berbeda dengan mahasiswa yang berada di Universitas yang lainya. Tanamkan bahwa kita mampu bersaing dengan mereka dan buktikan dengan prestasi baik perlombaan bidang akademis maupun non akademis! Benar ketika kita belajar tidak faham, tetap pelajari. Karena ketidakpahaman kita dilandasi kita baru mengetahuinya. Jikalau kita tetap berusaha untuk belajar, dan berjuang keras Insya Allah akan dimudahkan dalam memahami pelajaran yang kita tempuh.
Teman-teman ku... tulisan ini adalah secuil kisah dalam kehidupan saya. Saya-pun tidak pernah menyangka saya bisa hidup di Kota Surabaya, dapat kuliah di Kampus Negeri. Perlu kita ingat, seberat apapun hidup yang kita jalani itu merupakan rahmat dari Allah. Saya pernah mendengar dari Ustadz saya bahwa Allah tidak akan pernah memberikan cobaan diluar batas manusia. Dan saya yakin bahwa cobaan yang diberikan oleh Allah tersebut adalah rahmat, karena di dalamnya terdapat hikmah yang sangat banyak.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar